Musim gugur di Inazuma hampir berakhir. Tiba saatnya setiap rumah tangga melakukan aktivitas pembersihan mendalam di kediamannya sebagai persiapan sebelum suhu semakin menurun. Setiap sudut ruangan dipoles hingga mengkilap. Berbagai perabot outdoor yang digunakan sepanjang musim panas dibongkar dan mulai dipindahkan ke gudang penyimpanan.

Hal yang sama dilakukan di kediaman Kamisato. Tampak beberapa pengurus rumah tangga lalu lalang melaksanakan tugas pembersihan pada hari itu. Tak hanya para staf, istri kepala klan Kamisato sendiri turut terlibat langsung dalam kegiatan bersih-bersih. Kamisato Hitomi atau yang lebih akrab dipanggil Pit, tak segan memegang sapu bersama para pengurus rumah tangga termasuk Thoma.

Sang nyonya rumah menyapu dengan wajah riang sambil sesekali menggumamkan nyanyian. Meski begitu, para staf pengurus rumah tangga yang baru bergabung tahun itu tak mampu menyembunyikan rasa kikuk dengan kehadiran sang majikan di tengah mereka. Thoma yang sudah cukup akrab dengan kedua kakak beradik dan pasangannya itu kemudian mencoba mencairkan suasana.

“Okusama sebelum bergabung di keluarga Kamisato, pernah menjadi miiko di kuil Narukami” Thoma mengangkat jari telunjuknya dengan bersemangat di depan para staf baru.

Pit berbalik, baru menyadari kehadirannya membawa suasana kaku di ruang utama kediaman. “Be-betul! selama menjadi miiko aku sudah terbiasa menyapu dan bersih-bersih! Jadi tidak perlu sungkan ya…” Ia tersenyum pada para staf pengurus rumah tangga baru di hadapannya. “Lagipula hari ini aku sedang senggang, tidak ada pekerjaan commission.”

Para staf baru mengangguk perlahan membalas senyuman sang nyonya rumah. Namun, meski sudah beberapa menit berlalu, Pit masih dapat menangkap gurat gugup dari beberapa staf. “Ahh… sepertinya bagian ini sudah cukup orang ya… mungkin sebaiknya aku membantu Furuta-san.”

Pit menyerahkan sapu yang dipegangnya pada Thoma. Ia berpamitan dan segera mendatangi sisi Barat kediaman Kamisato. Beberapa staf baru berbisik “Tapi bukannya okusama juga dari noble clan? Aku tetap sungkan melihat beliau ikut bersih-bersih”

.

Sang istri kepala klan akhirnya sampai di sayap barat, “Apakah ada yang bisa kubantu di bagian sini Furuta-san?”

“oh… waka-okusama tidak perlu repot-repot… ”

PIt tersenyum, Furuta-san yang sudah mengabdi sejak generasi sebelumnya ini sepertinya masih belum bisa melepaskan panggilan Okusama bagi mending mertuanya. Setelah 4 tahun tinggal di kediaman Kamisato, hanya Furuta-san yang memanggilnya dengan waka-okusama. Pit sendiri tak masalah dengan itu, ia hanya sedikit merasa tergelitik karena di usianya saat ini, ia fikir ia tak lagi cocok disebut nyonya muda. Meskipun jika ia mengatakan ini dengan lantang, orang yang mendengar pasti akan membantah.

“Koharu saat ini sedang memindahkan beberapa barang di gudang, waka-okusama. Saya rasa pekerjaan di area ini cukup terkendali. Waka-okusama bisa beristirahat saja di dalam.”

Pit menggeleng. “Furuta-san, kebetulan aku senggang dan bosan hanya dengan menonton. Jadi aku mohon, biarkan aku membantu”

Furuta menghela nafas “Namun, pekerjaan di area ini cukup berat waka-okusama. Ada beberapa barang di gudang yang perlu disortir untuk dikeluarkan permanen agar peralatan musim panas kemarin bisa masuk”

“Tenang saja Furuta-san, meski dari keluarga Ikebana. Kami di keluarga Harukaze tetap menerima pelatihan bela diri. Aku cukup yakin dengan staminaku” Pit menatap lurus, mencoba meyakinkan wanita paruh baya di hadapannya.

Akhirnya Furuta mengangguk, mempersilakan sang nyonya muda bergabung dengan anak didiknya. Pit tersenyum senang, ia segera menghampiri Koharu untuk ikut menyortir dan mengangkut barang untuk memberi ruang.

Setelah menciptakan sepertiga ruang kosong dari yang dibutuhkan, pekerjaan menyortir barang cukup terhambat. Banyak benda yang memang tampak tak pernah keluar dari gudang, namun Pit ragu untuk langsung membuangnya. Koharu berinisiatif untuk bertanya pada Furuta, tapi ternyata ia tak ada di tempat. Sepertinya ada bagian lain yang memerlukan perhatian sang pengurus rumah tangga senior itu. Untunglah beberapa saat kemudian Ayaka datang.